Kenapa Budget OOH yang Lebih Besar Tidak Selalu Menghasilkan Dampak yang Lebih Besar

Brand kini menghabiskan lebih banyak budget untuk out-of-home (OOH) advertising dibanding sebelumnya.
Namun, dampaknya justru terasa semakin stagnan. Masalahnya bukan selalu soal budget, melainkan soal visibilitas. Dan sering kali, brand baru menyadarinya ketika hasil kampanye sudah terlanjur berjalan.
Pada akhirnya, setiap kampanye akan jatuh ke salah satu dari empat kategori: generic, ketika eksekusinya sudah bagus tetapi tidak cukup kuat untuk menembus perhatian; memorable, ketika sebuah ide benar-benar diingat dan mampu menggerakkan audiens; failure, ketika keduanya tidak tercapai; atau infamous, ketika kampanye justru diingat karena alasan yang salah.
Sebagian besar kampanye OOH masih berada di kategori generic. Secara visual terlihat baik, tetapi tidak benar-benar menggerakkan siapa pun. Karena terlihat bagus tidak selalu berarti benar-benar terlihat.
Salah satu penyebabnya adalah cara industri mengukur keberhasilan OOH. Selama ini, OOH banyak dijual berdasarkan impressions, yaitu berapa banyak orang yang secara teknis melewati sebuah billboard. Padahal, billboard di jalan tol yang dilewati kendaraan dengan kecepatan tinggi dan billboard di lokasi dengan traffic yang melambat secara alami bisa mencatat jumlah impressions yang serupa, tetapi memberikan dampak yang sangat berbeda.
Di sinilah Visibility Score menjadi penting. Alih-alih hanya melihat jumlah traffic, metrik ini mempertimbangkan sightline, dwell time, dan tingkat clutter untuk mengukur seberapa besar peluang sebuah placement benar-benar dilihat. Hasilnya, dua billboard yang hanya berjarak beberapa blok bisa memiliki nilai investasi yang sangat berbeda, bahkan ketika menggunakan creative yang sama.

Dari Favorit di Satu Kawasan Menjadi Percakapan Satu Kota
Pak Slamet telah berjualan bakso gepeng selama lebih dari dua dekade. Produknya memang sudah dikenal enak, tetapi reputasinya tidak pernah benar-benar keluar dari lingkungannya sendiri. Ini adalah cerita yang cukup familiar bagi banyak brand kecil dan menengah: produk yang kuat, jangkauan yang terbatas, dan belum memiliki strategi media yang mampu menjembatani keduanya.
Kampanye yang dibangun untuk Pak Slamet justru menjadikan dirinya sebagai pusat cerita, bukan menggunakan selebritas atau brand ambassador. Strateginya sederhana: membawa sesuatu yang cukup familiar untuk langsung dipahami, tetapi cukup unik untuk membuat orang membicarakannya.
Dari sana, tim memetakan titik-titik dengan tingkat atensi tinggi di seluruh kota dan hanya memilih lokasi OOH dengan skor tertinggi. Placement tersebut kemudian digunakan untuk memicu percakapan pertama, yang selanjutnya diharapkan mengalir ke media sosial dan berkembang secara organik.

Hasilnya bertahan jauh setelah kampanye berakhir. Selama periode kampanye hingga enam bulan setelahnya, bisnis Pak Slamet mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 372% dan pertumbuhan jumlah pengunjung sebesar 415%. Di media sosial, impressions tumbuh 37.900% dan reach meningkat 48.600%.
Sebuah bukti bahwa ketika attention didapatkan dengan tepat, dampaknya tidak berhenti di billboard. Ia bisa berkembang menjadi percakapan, menyebar ke media sosial, dan pada akhirnya mendorong aksi.
CEO Nord & Smith, Kavindra Airlangga, membahas studi kasus ini secara langsung dalam Asia Pacific Media Forum (APMF) 2026 di Bali, melalui sesi bertajuk “Turning a 2,000-Year-Old Medium into an Attention Machine,” yang berlangsung pada hari ketiga forum, 7 Agustus 2026.
Get your OOH campaign planned and executed with the right strategy with Nord & Smith, the data-driven OOH agency you can definitely trust.































