OOH untuk Product Launch: Mengapa Lokasi Menentukan Momentum

Product launch bukan sekadar sebuah momen. Ia adalah sebuah jendela peluang yang bisa tertutup lebih cepat dari yang dibayangkan banyak brand.
Beberapa minggu pertama setelah peluncuran adalah periode ketika konsumen membentuk kesan pertama, percakapan mulai berkembang, dan momentum mulai terbentuk atau justru terhenti. Selama ini, out-of-home (OOH) telah menjadi salah satu media paling efektif untuk memanfaatkan momentum tersebut. Namun, kekuatannya bukan hanya terletak pada format medianya, melainkan pada lokasi kemunculannya.
Awareness Tanpa Konteks Hanya Akan Menjadi Noise
OOH menawarkan jangkauan yang sulit ditandingi oleh media lain. Pada tahun 2024, pendapatan industri OOH di Amerika Serikat untuk pertama kalinya melampaui USD 9,1 miliar, sekaligus mencatat pertumbuhan selama 16 kuartal berturut-turut (OAAA, 2024). Secara global, nilai pasar OOH diproyeksikan mencapai USD 25,8 miliar pada tahun 2026 (Fortune Business Insights, 2026). Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi terhadap OOH terus meningkat. Namun, besarnya investasi tidak serta-merta menjamin terciptanya momentum.
Yang benar-benar menentukan keberhasilan sebuah product launch adalah relevansi. Riset dari Solomon Partners menunjukkan bahwa kampanye DOOH mampu meningkatkan penjualan sebesar 9% dibandingkan kampanye tanpa OOH. Namun ketika penempatan media disesuaikan dengan konteks, baik dari sisi audiens, lingkungan, maupun momen, peningkatan tersebut melonjak menjadi 16% (Solomon Partners, 2025). Hasilnya hampir dua kali lipat hanya karena lokasi yang dipilih lebih tepat.

Lokasi yang Salah Dapat Menghambat Product Launch Sejak Awal
Banyak brand masih terjebak pada angka traffic yang tinggi tanpa mempertanyakan apakah traffic tersebut benar-benar berasal dari audiens yang mereka tuju. Persimpangan jalan yang ramai tidak memiliki nilai jika orang-orang yang melintas tidak memiliki keterkaitan dengan produk yang sedang diluncurkan.
Dampaknya jauh lebih besar daripada yang sering diperkirakan. Berbagai studi memperkirakan sekitar 65% belanja iklan berbasis lokasi terbuang akibat penargetan yang kurang tepat (Marketing Dive, 2019). Dalam konteks OOH, hal ini terlihat jelas. Produk premium yang dipasang di depan supermarket berorientasi harga murah, atau peluncuran produk teknologi yang ditempatkan di koridor dengan profil komuter yang tidak sesuai, bukan hanya akan menghasilkan performa yang rendah, tetapi juga dapat membuat brand terlihat tidak memahami audiensnya. Konsumen mampu membedakan apakah sebuah kampanye terasa relevan atau justru salah sasaran (bewonderful.co.uk, 2026).
OneScreen dalam 2026 OOH Media Planning Playbook bahkan menyebutkan bahwa “membuang impresi kepada audiens yang salah merupakan ancaman terbesar bagi anggaran pemasaran.” Bagi product launch yang mengandalkan momentum sejak hari pertama, tidak ada ruang untuk memulai dengan langkah yang salah.
Lokasi Harus Selaras dengan Dunia Produk
Strategi OOH yang efektif selalu dimulai dengan memahami di mana target audiens tinggal, bekerja, bepergian, dan berbelanja. Setelah itu, barulah pemilihan media dilakukan berdasarkan pola tersebut.
Pendekatan ini bukan sekadar praktik terbaik yang umum diterapkan. Riset Broadsign menunjukkan bahwa 56% konsumen membeli produk yang sebelumnya mereka lihat di layar DOOH, dan 65% dari pembelian tersebut merupakan pembelian yang tidak direncanakan (Broadsign, 2025). Lokasi yang tepat memungkinkan sebuah produk hadir di hadapan konsumen ketika mereka memang berada dalam kondisi yang paling siap untuk mengambil keputusan.
OOH sebagai Pemicu Keseluruhan Ekosistem Product Launch
Salah satu kekuatan terbesar OOH dalam product launch adalah kemampuannya menjadi titik awal dari rangkaian interaksi di berbagai kanal pemasaran. Paparan melalui OOH menjadi kontak pertama yang membangun awareness sehingga aktivitas di media sosial, mesin pencari, hingga kanal digital lainnya dapat bekerja dengan lebih efektif.
Survei pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 74% pengguna ponsel melakukan tindakan setelah melihat iklan DOOH. Sebanyak 44% mencari informasi mengenai brand tersebut melalui mesin pencari, sementara 38% mengunjungi website yang diiklankan (OAAA/GroundTruth, 2024). OOH juga mendorong interaksi di media sosial. Sebanyak 47% konsumen mencari akun media sosial brand yang ditampilkan dalam iklan OOH, dan 40% membagikan konten terkait secara online (OAAA, 2024). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa OOH mampu memberikan peningkatan performa sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan televisi dalam mendorong kunjungan ke toko maupun respons digital (OAAA/Kochava, 2026).
Inilah yang disebut sebagai momentum. Bukan sekadar menghasilkan impresi, tetapi membangun kehadiran fisik di lokasi yang tepat sehingga mampu memicu rasa ingin tahu dan mendorong konsumen untuk terus berinteraksi dengan brand. Dalam sebuah product launch, rangkaian proses tersebut memiliki peran yang sangat menentukan.

Brand yang memperlakukan pemilihan lokasi OOH hanya sebagai formalitas, misalnya sekadar memilih billboard terbesar di kawasan tersibuk, sering kali kehilangan manfaat jangka panjang yang dihasilkan oleh relevansi kontekstual. Sebaliknya, brand yang memilih lokasi berdasarkan pola mobilitas audiens, kedekatan dengan titik penjualan, dan kondisi psikologis konsumen saat melewati suatu area, adalah brand yang mampu mengubah sebuah product launch menjadi sebuah momentum pertumbuhan.
Di Nord & Smith, kami membantu brand mengambil keputusan tersebut berdasarkan data, bukan asumsi. Baik untuk peluncuran produk di tingkat regional maupun nasional, pendekatan kami selalu dimulai dari location intelligence agar setiap media yang dipilih benar-benar memberikan kontribusi terhadap keberhasilan strategi product launch.
Get your OOH campaign planned and executed with the right strategy with Nord & Smith, the data-driven OOH agency you can definitely trust.








