
Industri out-of-home di Indonesia memasuki tahun 2026 sebagai salah satu bagian paling stabil dari bauran media yang di sisi lain terus berubah akibat algoritma dan perebutan atensi.
Secara global, belanja iklan out-of-home diproyeksikan tumbuh 4,1% tahun ini, angka yang sederhana namun cukup berarti di tengah pasar yang mayoritas anggaran barunya masih mengalir ke kanal digital, menurut Dentsu Global Ad Spend Forecasts (2026). Di Indonesia, sinyalnya justru lebih kuat. Laporan belanja iklan Dentsu Indonesia menunjukkan OOH termasuk DOOH tumbuh 7% secara tahunan, melampaui pertumbuhan media cetak dan radio.
Mengukur besaran pasar secara presisi memang lebih rumit, karena metodologi tiap lembaga riset berbeda-beda. Mordor Intelligence memperkirakan nilai pasar OOH dan DOOH Indonesia berada di kisaran USD 354,69 juta pada 2025, dengan proyeksi mencapai USD 460,44 juta pada 2030 pada CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 5,36%, sementara programmatic DOOH tumbuh lebih cepat lagi di angka 11,7% (Mordor Intelligence, Indonesia OOH and DOOH Market, 2025). Selisih antara laju pertumbuhan kategori secara keseluruhan dengan laju programmatic inilah yang sebenarnya menjadi inti cerita tahun ini: pertumbuhan terkonsentrasi pada lapisan digital yang bisa dibeli secara programmatic, bukan menyebar merata ke seluruh pasar.
Inventori statis masih menjadi penopang utama bisnis ini. Billboard konvensional menyumbang 61,40% pangsa pasar OOH Indonesia pada 2025, ditopang oleh stok papan reklame yang tersebar luas secara nasional meski konversi ke format digital terus berjalan (Mordor Intelligence, 2025). Jakarta tetap menjadi pusat gravitasi dari konversi tersebut. Ibu kota diperkirakan menyumbang sekitar 27,17% dari pendapatan DOOH regional Asia Tenggara, dengan sekitar 30 juta impresi harian yang terpusat di koridor-koridor paling padat, menurut laporan Southeast Asia Digital Out-of-Home Market dari Mordor Intelligence, skala yang membuat sebagian besar investasi programmatic dan peningkatan layar masih terkonsentrasi di segelintir kota alih-alih menyebar secara nasional.

Kondisi regional turut mendukung pergeseran ke arah programmatic. Di Asia Tenggara, Digital Out-of-Home tumbuh pada CAGR 15,72% hingga 2031, lebih cepat dibanding medium iklan lain mana pun di kawasan ini, didorong oleh biaya layar yang semakin murah, konektivitas 5G, serta penghitungan impresi yang semakin terstandarisasi, menurut laporan Southeast Asia Advertising Market dari Mordor Intelligence (2026). Indonesia kini berada di barisan depan tren tersebut, bukan lagi tertinggal, sebuah pergeseran dibanding beberapa tahun lalu ketika kesiapan programmatic di Indonesia masih jauh di belakang Singapura dan Malaysia.
Bagi merek, kesimpulan praktis untuk 2026 adalah bahwa OOH di Indonesia tidak lagi bisa diperlakukan sebagai satu kategori tunggal dalam perencanaan media. Ada dua lapisan yang berbeda: lapisan statis yang besar dan stabil, yang masih menyerap sebagian besar anggaran, dan lapisan digital yang lebih kecil namun tumbuh jauh lebih cepat, tempat eksperimen kreatif dan potensi pengukuran yang sesungguhnya kini berada. Agensi dan klien yang memperlakukan keduanya secara terpisah dalam perencanaan dan pelaporan akan mendapat gambaran yang jauh lebih jernih tentang apa yang sebenarnya berhasil.
Get your OOH campaign planned and executed with the right strategy with Nord & Smith, the most accurate data-driven OOH agency you can definitely trust.



































